Perempuan (2)

Hidup bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin, hidup juga menceritakan sembilan belas jari lainnya, suka dukanya, sumringah nelangsanya, ragamnya, ramainya, sepinya, tanpa terkecuali.

Ia masih seperti perempuan yang dahulu kukenal, perempuan remaja yang mendongeng Si Kancil Nyolong Timun waktu aku masih kecil dulu. Keceriaannya juga masih seperti dulu, seceria ketika ia mengajarkan aku menyanyi lagu Tik Tik Bunyi Hujan di malam yang gerimis. Dan yang paling kuingat dari dia adalah keteguhannya, kesabarannya menjalani hidup.

Ia lulusan sekolah guru. Pada masa itu seharusnya ia dapat dengan mudah menjadi pegawai negeri sipil, tapi entah kenapa ia tidak memilih itu, ia justru banting stir berdagang kaki lima dengan dinding triplek didepan pabrik, dipinggiran Kota Bandung, pilihan yang dipandang kebanyakan orang adalah bodoh.

Kala itu, ia menikah dengan pemuda setempat, anak baru gede yang baru lulus dari STM. Pemuda itu tidak jahat, tidak juga saleh, dari keluarga yang biasa saja. Namun seperti kebanyakan pandangan orang pada masa itu, terutama dikampung asalnya, perempuan jawa yang menikah dengan pemuda sunda adalah hal yang kurang dapat diterima oleh akal, Ora patut, kata orang dulu.

Kemudian saat yang ditakutkanpun tiba, ketika usahanya sedang mengalami kemajuan yang pesat, cobaanpun datang, Ia bangkrut, suaminya yang mecalonkan diri jadi kepala desa, kalah telak dalam pemilihan tersebut. Modal habis, hutang melilit, kemudian Ia dengan anak-anaknya pulang kekampung halaman dengan membawa kekalahan.

Orang-orang yang tidak setuju dengan pilihan hidupnya dan pernikahannya, mungkin saat itu sedang bertepuk tangan, mematut-matut diri sambil bergumam dalam hati, apa sudah kubilang. Tapi ia seperti perempuan yang kukenal, teguh dan sabar. Ia mulai menata diri lagi, membangun kembali mimpi-mimpinya lagi. Dan setahuku, baru-baru ini ia sudah mendapatkan kejayaannya kembali.

Tuhan berkata, tak bertakwa kalau orang belum diuji ketakwaannya. Dan ujian itu hadir kembali. Suaminya menikah lagi, berpoligami, Ia dimadu. Menurutku tak ada ujian yang paling berat bagi seorang perempuan yaitu selain ada perempuan lain di sisi suaminya. Poligami, dosa yang dihalalkan agama.

Tapi perempuan satu ini memang hebat, ia tak pernah mengeluh dan tak pernah menunjukan kesedihan diraut mukanya, ia juga tak pernah membicarakan keburukan suaminya didepan orang lain, kesedihannya ia simpan rapat-rapat, mungkin hanya dia dan Tuhannya yang tahu dimana kenelangsaanya disimpan. Tapi dalam beberapa kesempatan aku lihat, ia menangis disela-sela Tahajudnya.

Kenelangsaan memang wajar untuk diratapi, tetapi tidak jelek juga untuk disyukuri. Dan untuk gadis hitam manis yang kutemui di minggu sore kemarin, jangan bersedih, simpan air matamu dan gunakan untuk hal-hal yang lebih perlu. Moc moc 🙂

 

Standar

milad

Pagi yang berisik, hati yang masih kabur, mencoba mengingat setahun yang lalu, walau terasa seperti baru kemarin. Kita bersepakat untuk bersama, tanpa saksi, tanpa penghulu. Kita rajut mimpi berdua, kau dan aku, dan milyaran kesempatan yang akan kita lewati bersama.

Waktu itu juga bulan puasa, aahh… pertemuan yang indah, lebih indah dari pertemuan Aria Kamandanu dan Nilam Cahya di lembah gunung cermai, lebih romantis dari adegan Nicholas Saputra ketika mengembalikan buku Aku  ke Dian Sastrowardoyo, mungkin hanya pertemuan antara Yoko dan Bibi Lung yang bisa menyamainya. Sempurna.

Aku tidak pernah berpikir hubungan kita akan bisa bertahan selama ini, Kau ingat? Malam itu, masih terlalu dini untuk dikatakan pagi, sebelum waktu sahur kita berbincang, obrolan pertama kita adalah pelangi dimalam hari.

Kau adalah cerminan diriku, walau tak sepenuhnya lengkap, kau pendengar yang baik, walau terkadang  diam-diam ku khianati, kau mampu menampung lautan pikiranku dalam mangkuk kecilmu, walau terkadang sajiannya tak sedap, Kau adalah aku.

Kita berdua bergumul, bertatapmuka, berbicara tentang banyak hal, tentang abah, emak, tentang perihnya hati yang retak, remuknya mimpi, sederhananya surga, malangnya firman utina, rumitnya cinta, tentang nona, berbicara banyak hal, tentang apa saja.

Terimakasih untuk setahun yang menakjubkan, hari ini miladmu, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu, blogku, maucokelat.

Standar

Perempuan (1)

Sore yang masih nampak terang, mobil dan sepeda motor  berbaris  saling berdesakan dijalanan yang tanpa trotoar. Berderet-deret mirip antrian orang yang ingin membeli tiket konser Justien Bieber. Bunyi klakson saling bersahutan tanpa putus, terdengar seperti gelaran musik orchestra, walau tanpa konduktor. Atau aku kira lebih tepat, seperti orang yang saling memaki, bunyi klakson itu seperti ingin bilang, “Bangsat ! Minggir !”.

Supaya bisa bebas bergerak, Ia jepitkan juntaian jilbab putihnya, yang sekarang sudah tidak terlihat putih lagi, dibelakang lehernya. Kulit mukanya yang sawo matang nampak mengkilat, akibat perpaduan antara peluh dan sisa cahaya matahari hari ini. Sementara kedua tangannya sibuk mengatur lalu lintas yang jelas sulit diatur.

Ia perempuan yang hampir setiap sore kutemukan dipersimpangan jalan ini ketika aku pulang bekerja. Seingatku, bajunya selalu itu, warna jilbabnya juga begitu, ekspresi mukanya juga tak jauh beda, tersenyum ceria. Tapi  aku tak pernah melihat Ia berkata, sepatahpun. Layaknya orang yang mengatur jalan, seharusnya ia menggunakan suaranya untuk mempermudah apa yang ia lakukan, tapi nyatanya tidak.

Senja sudah hilang sedari tadi, sudah tidak adalagi suara klakson yang biadab, sekarang yang tertinggal hanya suara perutku yang protes minta ingin  segera ditanggulangi. Aku mampir di warteg favoritku, selain karena murah, alasan terbesarku memilih warung ini karena bahasanya mirip dengan bahasa ibuku, selain terasa nyaman, juga untuk mengobati rasa kangenku pada kampung halaman.

Aku kaget, Ia perempuan yang ku bicarakan sedari tadi, sudah ada didepan mataku. Tangannya sibuk menunjuk-nunjuk lauk yang akan dibelinya, tempe, sayur kacang, jengkol, apalagi tadi, ah.. sudahlah aku lupa. Kemudian Ia menyodorkan beberapa lembar uang kepada pelayan tanpa meninggalkan sepatah katapun. Belakangan baru aku tahu, Ia bisu sejak lahir. Sekilas ia melihat kearahku, tetap dengan mimik muka sore tadi, tersenyum ceria.

Standar

satu juli

Pada satu juli, peristiwa yang terbesar dalam hidupku telah terjadi, hari yang ke 182 dalam kalender masehi, hari yang membuat jalan hidupku berubah 180 derajat. Saat itu di kantor-kantor polisi, mungkin mereka sedang bersuka-cita, berpesta, merayakan hari jadi institusinya, Bhayangkara. Tapi aku disini, di rumahku, kami sedang berduka.

Piala dunia tahun 2002 telah berakhir kemarin. Seperti kebanyakan orang dikampungku, tentu aku menjagokan Brasil untuk memenangi kompetisi ini. Dan prediksiku tidak meleset, Brasil lah yang menjadi jawaranya dan Ronaldo Luís Nazário De Lima yang berambut poni itu, dengan delapan gol yang berhasil ia koleksi yang menjadi top skorernya. Saat ini seharusnya aku bersukacita, seharusnya aku masih bergembira. Tapi nyatanya tidak, aku sedang berduka.

Lagu Tak Ingin Usai yang dibawakan Tere masih mengalun dari tape recorder kesayanganku saat Emak dinyatakan telah tiada. Ia sudah berpulang, Tuhan telah memeluknya, malaikat menculiknya tanpa sepengetahuan kami di sore tadi. Tangisku pecah, tangis kami pecah, hati kami pecah.

Saat final Piala Dunia antara Brasil versus Jerman kemarin, Emak memang sudah mengeluh sakit, kami kira itu sakit biasa. Tapi apa mau dikata, ternyata sakitnya itu adalah sakit yang terakhir untuknya, dan sakit yang akan kami derita selamanya, selamanya.

Sore itu ketika satu jam menjelang waktu magrib, aku masih bisa berbincang dengannya. Dengan masih memegang dadanya yang ia bilang nyeri, Ia minta aku menyuapinya Jeruk, setelah itu, Ia menyuruhku segera mengerjakan Ashar yang waktunya semakin sempit, Ia juga bilang ingin segera tidur. Ternyata belakangan baru aku tahu, Ia ingin tidur selamanya, di surga.

Sudah sembilan tahun berlalu, Emak tahu?, walau Tere sekarang sudah tak menyanyi lagi, tapi aku masih sering mendengarkan lagu Tak Ingin Usai, walau tak seperti dulu, tapi itu sedikit mengobati kangenku padamu. Aku juga sudah besar Mak, sudah tidak manja lagi, sudah tidak penakut lagi. Jadi tak perlulah kau terlalu kawatir, karena anakmu ini sudah bisa menyelesaikan urusannya sendiri. Dan kabar baiknya, minggu depan aku pulang.

Emak, aku kangen.

Standar

Perjamuan

Setelah Takbir, kemudian tak ada lagi. Mulut mungkin masih komat-kamit, mengucap rangkaian kata yang tak terlalu banyak aku pahami, tapi hati siapa yang tahu. Ia punya jalan pikirannya sendiri, menelanjangi ingatan, memungut satu persatu, dan kemudian merangkainya menjadi sesuatu yang terlalu asyik untuk dilewatkan.

Gadis berkulit hitam manis yang kutemui didepan angkringan tadi tersenyum kearahku, akupun tersenyum, matanya, Duh Gusti… matanya itu, menusuk tepat di ulu hatiku. Dompetku, dimana dompetku, oh aku ingat, diatas laci, disamping tumpukan novel yang belum sempat kubaca. Aku bingung dengan Guardiola, kenapa tidak kunjung membeli Fabregas, padahal musim liga segera tiba. Ya Tuhan, Deadline!! Harus segera kuserahkan final artwork-nya besok.

Mulutku masih komat kamit, entah sekarang Surat apa yang dibaca. Gerakan, bacaan, sepertinya sudah di setel otomatis, pada gerakan apa aku harus membaca apa. Miskin makna. Jangankan makna, Tuhan yang disembahpun sepertinya sudah terlupa.

Entah sekarang sudah pada rakaat berapa aku berada, tiba-tiba aku sudah terduduk, dengan jari telunjuk kanan sudah mengacung kedepan, oh ya, aku harus segera mengakhirinya, segera aku melengos pergi.  Didalam hati masih mengganjal pertanyaan, Tuhan, apa yang ku lakukan tadi?

 

Standar

balada bujang

Dia mahasiswa seni rupa, fakultas cinta, jurusan patah hati. Rambutnya sebahu, jarang disisir, dan ujungnya kemerahan, bercabang tak terawat, mungkin juga berkutu. Muka berjerawat layaknya remaja. Penyuka buku-buku berat, sejarah, agama dan filsafat.

Dia mahasiswa seni rupa, fakultas cinta, jurusan patah hati. Rambutnya masih sebahu, senang berdiskusi tapi penyendiri, juga pemimpi. Di dompetnya jarang ditemukan lembaran uang, biasanya hanya ada KTP, KTM, dan foto masa kecilnya. Ia peragu, juga pemalu.

Dia mahasiswa seni rupa, fakultas cinta, jurusan patah hati. Sangat bersemangat, walau agak sering terlihat seperti meratap. Terlalu keras pada diri sendiri, sehingga sampai lupa kodratnya, bahwa sekuat apapun pria, tetap saja butuh wanita disampingnya.

Tapi itu dulu, sekarang lain soal.

Dia masih mahasiswa seni rupa, fakultas cinta, jurusan patah hati. Rambutnya tak lagi sebahu, tapi klimis dengan belah rambut pinggir. Dia sudah berdamai dengan kenyataan, memakai parfum Dolce & Gabana itu sudah lumrah, pakai kemeja lengan panjang bergaris dengan lengan selalu dilipat sampai ke siku. Penyuka novel, penggila cappuccino dan sedikit lebih mudah tersenyum. Tapi ia masih peragu, masih pemalu.

Standar

mari mengkhayal

Seratus ribu lebih penonton memadati stadion Nou Camp, sorak sorai riuh memekakan telinga, mereka meneriakan namaku tanpa henti. Disini hanya ada warna merah dan biru, warna lain haram masuk kawasan ini. Aku juga masih memakai jersey ini, juga merah biru, bernomor sepuluh. Akulah sang idola, pemain terbaik sejagat raya, sedunia akhirat, peraih Ballon D’Or dua kali berturut-turut, pemenang piala Champion tiga kali, mungkin nanti akan lebih lagi, Aku memang idola, selamanya.

Matahari sore masih menyengat, sinarnya menerpa kulitku yang berkeringat, bias cahayanya membuat bulir keringatku seperti berlian, jernih dan berkilau. Sementara penonton masih melakukan standing applause, merayakan kemenanganku, kemenangan idolanya disirkuit balap, sambil mengibarkan bendera berwarna kuning, aku terharu. Di  Sirkuit Mugelo, aku menutup musim ini dengan kemenangan, menjadi juara dunia untuk kesembilan kalinya. Kemenangan ini aku persembahkan untukmu, Emak, Abah, dan kalian para fans, I love U.

Malam sudah menyelimuti bumi, semua penonton mendadak diam, senyap, lampu utama juga redup, suasana menjadi gelap, hanya aku yang tersorot cahaya. Mereka semua berdiri, mengacungkan tangan, dengan ponsel digenggaman yang dalam keadaan menyala. Sehingga yang terlihat hanya seperti bintang gemerlapan, dekat dan sangat banyak. Kemudian aku mulai mendentingkan piano yang sedari tadi sudah ada dihadapanku, aku akan menyanyikan sebuah lagu, Fix You.

Malam semakin larut, kini sudah tak adalagi tepuk tangan, tak ada lagi teriakan menyebut namaku, tak ada bendera dikibarkan, semua penonton raib, sekarang yang tersisa hanya ada aku, gitar, dan laptop yang berisi skripsi setengah rampung.

Untukmu, Messi, Rossi, dan Chris Martin.

Standar